Sabtu, 20 Agustus 2016

Ahmad Dhani : Dia hanya pedagang mebel yang ngurus ratusan karyawannya ! Ucapnya kepada Jokowi, Sebab





BERITA KOCIK | Berita Hot – Musisi Ahmad Dhani kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menyindir beberapa pentolan partai dan pejabat penting karena mereka berpihak kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tidak ketinggalan Presiden Jokowi pun disindir oleh Ahmad Dhani.

Sindiran yang diucapkan oleh Ahmad Dhani ini ia sampaikan saat menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Apa sih sejarah Ahok, apa sih sejarah Jokowi? Dia hanya pedagang mebel yang gagal ngurus ratusan karyawannya,” ujar Dhani..

Setelah menjelek-jelekkan Presiden, Ahmad Dhani lantas menyerang tiga parpol pendukung Ahok dan Ketua Umum Hanura Wiranto yang ia sebut sebagai pengkhianat.


“Biarkan Golkar, Nasdem, mengusung Ahok, biarkan pengkhianat bersatu biar jelas tahun 2017 siapa pengkhianat, siapa yang mendukung rakyat. Biarkan Wiranto menulis sejarah dia, apakah prajurit atau pengkhianat. Kalau saya ketemu jenderal, saya akan bilang Wiranto pengkhianat,” ujar Dhani.

Tidak ketinggalan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang juga ia sindir.

“Enggak usah memaksa PDI-P dan Megawati mendukung gubernur yang bukan Ahok. Biarkan Megawati menulis sejarahnya sendiri, apakah dia sejajar dengan Soekarno (Presiden pertama RI) atau berbanding terbalik,” ujar Ahok.

Dhani lantas juga menyindir Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan yang pro terhadap kebijakan Ahok dalam reklamasi Teluk Jakarta dengan menyebut Luhut sebagai pengkhianat.

“Luhut pengkhianat. Saya mengatakan ini dan saya tidak takut mati,” ujar Dhani.

Kamis, 18 Agustus 2016

Pedagang Lontong GOL , Karena Hajar Preman Kaya Yang Mengganggu Dagangannya !


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Medan,  Miswanto alias Iwan Lontong (42) warga Jalan Bunga Wijaya Kusuma, Padangbulan terpaksa meringkuk di sel sementara Polsek Medan Baru. Pria yang kesehariannya berdagang lontong dan sarapan pagi di Pasar Petisah ini ditangkap lantaran menganiaya preman bernama Roby (44) warga Jalan Mojopahit.

“Saya mukuli Roby lantaran dia buat ulah. Dagangan saya diganggunya,” kata Iwan di ruang penyidik, Kamis sore sebagaimana diwartakan tribun.

Menurut Iwan, ia sebenarnya tidak ada niat menganiaya Roby. Namun, karena kerap berbuat ulah, Iwan terpaksa menghantam kepala Roby dengan balok kayu.

“Selain mengganggu dagangan saya, dia juga memukul dua anggota saya. Siapa yang enggak emosi dengan sikapnya itu,” kata Iwan.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Baru AKP Adhie Putranto Utomo mengatakan, korban bernama Roby melapor setelah dianiaya pada Kamis  lalu. Saat itu, Roby dihantami balok dan dirawat di rumah sakit.

“Ada dua lagi yang masih kami cari. Mereka yang kami cari ini ikut melakukan penganiayaan terhadap pelapor,” katanya.

Seorang Bocah Muslim AS Dipaksa Mengaku Teroris, Keluarga Tuntut Sekolah Rp.655M, Ini Akibatnya ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - New York - Seorang bocah muslim berusia 12 tahun di New York, Amerika Serikat (AS), dipaksa menandatangani pernyataan palsu yang menyebut dirinya sebagai teroris. Tidak terima dengan hal ini, keluarga bocah ini mengajukan gugatan federal US$ 50 juta (Rp 655 miliar) terhadap sekolahnya.

Nashwan Uppal yang penyandang disabilitas ini mengalami kesulitan untuk belajar. Uppal duduk di kelas 7 salah satu sekolah menengah di East Islip, New York.

Disebutkan dalam gugatan hukum itu, seperti dilansir Reuters, Kamis (18/8/2016), Uppal sering dipermalukan oleh teman-teman yang suka mem-bully dirinya. Dia disebut sebagai teroris dan ditanyai soal rencananya untuk meledakkan target selanjutnya.

Uppal yang tidak bisa memahami dengan baik soal ejekan dan pertanyaan teman-temannya karena disabilitas yang disandangnya, akhirnya menjawab dengan menyatakan akan meledakkan pagar di luar sekolah. Pernyataan itulah yang disinyalir membuatnya dituding sebagai teroris.

Usai insiden yang tidak disebut waktunya itu, beberapa staf sekolah berteriak pada Uppal dan memintanya mengaku sebagai anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Bahkan Uppal dipaksa menandatangani surat pernyataan palsu, yang isinya pengakuan soal dirinya sebagai teroris.

Barang-barang bawaan Uppal juga diperiksa pihak sekolah. Tidak hanya itu, hal ini dilaporkan kepada polisi setempat dan rumah keluarga Uppal ikut digeledah polisi.

Uppal yang berusia 12 tahun merupakan warga negara AS keturunan Pakistan. Pihak keluarga lantas mengajukan gugatan hukum ke pengadilan federal dan meminta ganti rugi US$ 50 juta.

Menanggapi gugatan hukum ini, otoritas sekolah setempat atau East Islip Union Free School District di Long Island, menolak berkomentar.

Jessica Wongso Positif Divonis Pada 21 Oktober Mendatang Ucap Ketua Majelis , Ini Sebabnya ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Jakarta - Ketua majelis hakim kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Kisworo, mewanti-wanti jaksa dan pihak terdakwa Jessica Kumala Wongso untuk tidak berlarut-larut selama sidang. Kisworo menegaskan, Jessica harus jalani sidang vonis pada 21 Oktober.

"Kami harus bacakan (vonis) pada 21 Oktober, karena kalau tidak kami bisa kena sanksi," ucap Kisworo di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Jl Bungur Besar, Kamis (18/8/2016).

Kisworo mengatakan, sidang vonis harus dilakukan pada 21 Oktober karena masa tahanan Jessica habis pada 5 November 2016. Dengan demikian, sidang vonis harus dibacakan minimal 10 hari kerja sebelum masa tahanan habis.

"Jadi masa tahanan terdakwa habis tanggal 5 November sehingga minimal 10 hari sebelum masa tahanan habis harus kita bacakan vonisnya," ujarnya.

Sedangkan sidang pemeriksaan terdakwa akan diagendakan pada tanggal 21 September. Bila itu terlaksana, maka sidang tuntutan Jessica bisa dilakukan pada akhir September atau awal Oktober 2016.  

Selasa, 16 Agustus 2016

Tindakan TNI Menggebuk Rakyat Merdeka ,Inilah Sebabnya ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Hari ini Indonesia genap 71 tahun dan suara pekik merdeka akan terdengar lebih parau dari sebelumnya. Pekik yang barangkali juga akan dijawab dengan kata yang ditulis Ikranegara dalam puisinya yang nakal dan janggal, tetapi makin ke sini, kok, ya, makin terasa sebagai kebenaran.

Merdeka!
Belum

Pertanyaannya, apakah kita memang belum merdeka? Secara fisik tentunya sudah. Tidak ada Spanyol tidak ada Portugal. Tidak ada lagi komandan kompeni yang wara-wiri di atas kuda dan memasang tampang angkuh dan mulutnya tiada henti mencecarkan makian 'godverdomme' dan 'inlander'.
Tidak ada lagi saudara tua: maniak-maniak yang membikin negeri terkasih ini hancur sehancur- hancurnya dalam tempo tiga setengah tahun saja. Tidak ada NICA. Tidak ada Jan Pieterszoon Coen, tidak ada Raymond Pierre Paul Westerling.

Namun tentu pula merdeka bukan sekadar fisik. Bukan cuma badaniah. Merdeka juga mencakup pikiran dan hati. Merdeka dalam jiwa. Dan sungguh sangat disayangkan, sampai 71 tahun sejak teks proklamasi dibacakan Soekarno, merdeka masih sebatas fisik. Pikiran belum, hati belum, jiwa apalagi, dan inilah sebab kenapa ketidakpuasan terus menyeruak.
Merdeka, juga kemerdekaan, tak lebih dari seonggok kata yang diabadikan tanpa makna di lembaran teks proklamasi. Merdeka, juga kemerdekaan, seolah-olah ditinggalkan di tembok- tembok kota yang sudah lama diruntuhkan. Kesalahkaprahan yang melahirkan semangat untuk berpisah dari republik: DI, RMS, GAM, OPM.

Apakah saya terlalu skeptis? Mereka yang sampai hari ini hidupnya anteng-anteng belaka, yang masalah terbesar yang dihadapinya adalah keterlanjuran meneguk kopi yang oleh baristanya ternyata dicampur gula dan itupun bukan gula rendah kalori, barangkali akan beranggapan demikian. Mereka akan menganggap gugatan terhadap merdeka sebagai keceriwisan yang mengada-ada.

Orang-orang semacam ini tentunya tidak boleh disalahkan. Tuhan menurunkan keberuntungan dan sungguh beruntung mereka yang mendapatkannya. Tapi faktanya, memang, sedikit yang seperti mereka. Tidak sampai 20 persen. Sisanya adalah para jelata yang disebut Wiji Thukul sebagai 'serdadu-serdadu kebijaksanaan'. Serdadu yang lahir karena adaptasi yang terpaksa atas keadaan yang mau tak mau, suka tidak suka, mesti diterima. Bahwa masalah nomor satu adalah hari ini, jangan mati sebelum dimampus takdir.

Meski jelata, meski serba berkekurangan, orang-orang dalam kelompok ini pada dasarnya tetap berhak menikmati kemerdekaan. Bentuknya mungkin bukan secangkir kopi kualitas premium di kafe-kafe branded. Bukan pakaian dalam Victoria Secret. Bukan jam tangan Richard Mille. Bukan BMW, Audi, Mercedes, Jaguar, Ferrari. Bukan apartemen di kawasan segi tiga emas Jakarta. Bukan yacht. Bukan sepetak tanah dengan nisan marmar kelas satu di San Diego Hills atau Al Azhar Memorial Garden.

Melainkan hak untuk berserikat dan berkumpul. Hak untuk berpendapat. Hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan, dan untuk mendapatkan nafkah. Pendeknya, hak untuk dilindungi oleh penyelenggara negara dan pemangku-pemangku kebijakan.

Sayangnya, kita pun tahu benar, hak-hak ini kerap dikebiri. Alih-alih melindungi, penyelenggara negara dan pemangku kebijakan justru seringkali berada di barisan terdepan untuk mengelabui dan mencelakai mereka.

Rendra pernah teriak-teriak, orang kecil, rakyat kecil, tidak bisa ngalah melulu. Tapi apa mau dikata, memang inilah kenyataannya. Orang kecil, rakyat kecil, memang ditempatkan pada posisi yang tidak sekadar mengharuskan mereka untuk kalah, tetapi lebih jauh memaksa mereka menerima dan memaklumi kekalahan itu.

Di Medan, jelang perayaan hari merdeka, tentara membabibuta menggebuk rakyat yang sedang mencoba menggunakan haknya. Hak atas tanah yang menurut mereka hendak direnggut oleh tentara.
Terlepas keliru atau benarnya, atau paham tidak pahamnya rakyat terhadap undang-undang dan hukum negara yang kadang-kadang kelewat rumit, tentara tetap tak boleh main kayu. Sebab tentara semestinya hadir untuk memberikan rasa nyaman dan tentram, bukan merasukkan ketakutan.

Besok Indonesia genap 71 tahun merdeka. Sudah berlalu 71 tahun dan seharusnya, bait terakhir dari puisi berjudul Kemerdekaan yang ditulis Wiji Thukul di tahun 1988: "kemerdekaan selalu di garis depan", tidak perlu dibacakan lagi. Pula demikian puisinya yang lain, berjudul serupa yang ditulis enam tahun sebelumnya: "Kemerdekaan adalah nasi. Dimakan jadi tai."

Sayangnya tidak demikian, dan besok, seperti pada perayaan-perayaan sebelumnya, suara pekik merdeka akan tetap terdengar parau. Bahkan lebih parau.

Diberdayakan oleh Blogger.