Senin, 27 April 2020

Efek Samping Terlalu Sering Menggunakan Vibrator

Efek Samping Terlalu Sering Menggunakan Vibrator

Punya vibrator yang acap kali digunakan untuk menambah keintiman dengan pasangan saat berkaitan seksual? Vibrator merupakan salah satu mainan seks atau sex toys yang paling umum digunakan oleh wanita dan pria. Alat ini cakap memberikan stimulan pada penis hingga ereksi dan Miss V di spot tertentu. Walaupun dapat meningkatkan kegiatan dan gairah seksual, terlalu acap kali gunakan vibrator juga dapat menimbulkan efek samping. Berikut penjelasannya.

Penggunaan vibrator sebagai alat tolong dan sumber kepuasan seksual sudah kian marak. Penelitian dari The Journal of Sexual Medicine menonjolkan bukti tersebut berdasar survei pada 2192 wanita yang tinggal di Amerika Serikat dan Inggris. Mereka mengaplikasikan vibrator saat berkaitan seksual dengan pasangan atau masturbasi. Vibrator cakap meningkatkan keintiman dan mengembalikan hilangnya gairan seksual, tetapi rupanya, jikalau digunakan terlalu acap kali, vibrator dapat menimbulkan sebagian situasi buruk, seperti:

1. V mati rasa sementara
Rangsangan yang berlebihan pada Miss V, dapat menyebabkan rasa sensitivitas Miss V menghilang sementara. Leah Millheiser, direktur Program Pengobatan Seksual V di Universitas Stanford mengatakan hal tersebut. Ia menyuarakan bahwa pemakaian vibrator secara terus menerus (layaknya lari maraton) dapat menimbulkan mati rasa sementara pada Miss V. 

Tapi, hal itu tidak berlangsung lama karena saraf akan kembali normal dengan kencang. Dikala Anda mengalami mati rasa saat asyik bermain dengan vibrator bersama pasangan, cukup rehat sejenak. Megan Stubbs, seorang seksolog klinis menggambarkan mati rasa karena vibrator merupakan seperti Anda baru selesai mengaplikasikan mesin pemotong rumput atau blender di tangan. 

2. Iritasi pada vulva
Walaupun acap kali gunakan vibrator hanya memberi efek Miss V mati rasa sementara, tetapi kemungkinan besar dapat membikin vulva iritasi. Mengutip dari Huffington Post, pemakaian vibrator yang terlalu acap kali dan tidak dibersihkan dengan benar dapat membikin vulva iritasi. Vulva merupakan bagian paling luar dari kemaluan wanita yang dapat diperhatikan oleh mata secara lantas. 

Kalau Anda acap kali mencukur rambut kemaluan, vulva dapat menonjol dengan terang. Nah, saat vibrator tidak dibersihkan dengan benar, salah satu anatomi Miss V ini dapat menjadi iritasi dan terasa sakit.

3. Risiko penyakit menular seksual
Anda acap kali bermain gunakan vibrator bersama pasangan? Hati-hati, ini berpotensi menyebarkan atau menularkan penyakit menular seksual, seperti herpes  genital dan klamidia. Tapi jikalau Anda masih mau berkaitan seksual dengan pasangan mengaplikasikan mainan seks ini, masih dapat asal dengan sistem yang aman. Anda dapat menutup vibrator mengaplikasikan kondom yang baru dibuka dari kemasan dan bersihkan setelah selesai memakainya.

Sebenarnya tidak ada waktu yang pasti karena tiap orang memiliki perbedaan waktu dalam merasakan kenikmatan saat mengaplikasikan vibrator. Tapi, jikalau Anda acap kali gunakan vibrator selama 30 menit tanpa henti dan merasa mati rasa, sebaiknya hentikan sejenak pemakaian mainan seks tersebut. Selain itu, usahakan untuk tidak mengaplikasikan vibrator tiap hari. Anda dapat memakainya secara selang-seling atau seminggu sekali.

Berikut sebagian sistem mengaplikasikan vibrator agar konsisten dapat merasakan tanpa rasa sakit:

1. Meringkuk telentang
Dikala Anda sudah siap untuk bermain dengan vibrator seorang diri (masturbasi). Cobalah untuk meringkuk telentang sambil membatasi vibrator. Kemudian letakkan vibrator di atas klitoris. Sebagai macam, Anda dapat tidur telentang sambil menjepit vibrator di paha dalam. 

2. Oleskan pelumas pada klitoris
Sesudah Anda siap, nyalakan vibrator dan carilah spot peka di tubuh. Anda dapat mengoleskan sedikit pelumas pada klitoris dan Miss V. Kalau mau merasakan sensasi, dapat menambahkan sedikit air hangat pada pelumas saat acap kali bermain gunakan vibrator.

3. Tarik napas pelan
Dikala merasakan getaran dari alat tolong seksual ini, atur tempo pernafasan Anda. Tak perlu ragu untuk bermain dengan daya pikir liar sambil menemukan spot peka dan kenikmatan. 

4. Bermain bersama pasangan
Kalau Anda mau gunakan vibrator bersama pasangan, dapat dijalankan sambil pemanasan (foreplay). Vibrator dapat digunakan hingga menemukan spot peka pada wanita ataupun pria. Mainkan daya pikir liar bersama pasangan sambil bermain vibrator untuk menambah keintiman. 

Alasan Kenapa Anda Harus Melakukan Tes Penyakit Kelamin

Alasan Kenapa Anda Harus Melakukan Tes Penyakit Kelamin

Penyakit HIV, gonore, sipilis, atau klamidia mungkin sudah tak asing lagi Anda dengar. Seluruh itu merupakan penyakit yang bisa menular via kesibukan seksual berisiko. Apabila Anda atau orang terdekat Anda baru saja terlibat dalam relasi seks yang berisiko, Anda perlu menjalani tes penyakit kelamin untuk mendeteksi seberapa besar risiko Anda terhadap penyakit-penyakit di atas. Melainkan, tak cuma itu saja alasan Anda mencontoh tes penyakit kelamin. Ingin tahu apa saja? Yuk, simak pelbagai alasannya berikut ini.

Seperti penyakit pada biasanya, penyakit menular seksual bisa menimbulkan pelbagai gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Entah itu, kelamin terasa gatal, nyeri saat terkait seks atau membuang air, atau melemahnya cara kekebalan tubuh. Pusat Pembatasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) menceritakan sebagian alasan yang bisa mendorong Anda untuk menjalani tes deteksi penyakit menular seksual. Di antaranya:

1. Aktif terkait seksual
Anda yang aktif terkait seksual berpeluang lebih besar untuk tertular penyakit kelamin. Melaksanakan relasi intim tanpa pengaman seperti kondom bisa memindahkan pelbagai virus yang menyebabkan penyakit. Percobaan penyakit kelamin yang amat dianjurkan pada orang yang sudah aktif terkait seksual antara lain tes klamidia dan gonore setiap satu kali per tahun.

Alasan kenapa tes penyakit kelamin ini perlu dikerjakan rutin merupakan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi pada orang-orang yang tak mengalami gejala. Percobaan klamidia dan gonore biasanya dikerjakan via tes urin atau swab yang dimasukkan ke dalam penis atau leher rahim wanita.

2. Berkaitan seks dengan sesama pria
Pria yang terkait seks dengan sesama pria berisiko tinggi tertular penyakit kelamin. Terpenting bila tak menggunakan pengaman, seperti kondom. Pasangan gay amat dianjurkan menjalani tes penyakit kelamin, seperti tes klamidia, HIV, sifilis, dan klamidia, lebih acap kali daripada pasangan heteroseksual; merupakan setiap 3 atau 6 bulan sekali. Waktu pelaksanaan tes ini perlu dikonsultasikan pada dokter secara khusus dulu.

3. Berjenis kelamin perempuan
Tipe human papillomavirus (HPV) tertentu bisa menyebabkan kanker serviks dan kutil kelamin. Alasan tes HPV ini perlu dikerjakan wanita merupakan karena virus tersebut bisa menyebabkan kanker serviks. Percobaan HPV menjadi amat penting secara khusus karena banyak orang yang aktif terkait seksual terinfeksi melainkan tak mengalami gejala.

Pada wanita, tes HPV akan melibatkan tes pap smear (memeriksa sel-sel abnormal) yang perlu dikerjakan secara rutin setiap 3 tahun sekali. Selain tes HPV, Percobaan penyakit kelamin yang perlu dikerjakan oleh wanita tes HIV dan klamidia.

4. Sedang merencanakan kehamilan
Alasan lain untuk mengerjakan tes penyakit kelamin merupakan kehamilan. Ini amat perlu dikerjakan secara khusus pada wanita yang berisiko terinfeksi virus penyakit kelamin. Percobaan yang perlu dikerjakan di awal kehamilan, atara lain tes sifilis, HIV, hepatitis B, klamidia, dan gonore. Percobaan tersebut mungkin perlu diulangi sesuai keperluan untuk melindungi kesehatan ibu dan bayinya. Pasalnya, sebagian penyakit yang menular via relasi seks bisa menular ke janin.

Untuk mencegah penyakit menular seksual, Anda perlu menggunakan kehidupan seks yang sehat, seperti menggunakan kondom, menjaga kebersihan kelamin dan mainan seks, dan tak bergonta-ganti pasangan seks. Selain menjalani tes, perbuatan pencegahan akan lebih lengkap bila Anda menerima vaksin penyakit kelamin dengan lengkap.

Penyebab Lelaki Stres Setelah Berhubungan Intim Dengan Pasangan

Penyebab Lelaki Stres Setelah Berhubungan Intim Dengan Pasangan

Pria acap kali kali dianggap mempunyai gairah seksual yang besar, selalu mau terkait intim, dan lebih merasakan kesibukan seksual dibandingi wanita. Padahal, pria juga dapat mengalami stres sesudah terkait intim atau post-coital dysphoria. Alih-alih merasa bersuka ria, relasi intim justru memunculkan emosional negatif yang membekas. Post-coital dysphoria (PCD) ditandai dengan timbulnya perasaan sedih, stres, frustrasi, atau bahkan depresi berakhir terkait intim. Situasi ini dapat terjadi sekalipun Anda menjalankan relasi intim bersama pasangan dengan persetujuan (consent).

Relasi intim memang dapat membuat seseorang menjadi emosional, tetapi banyak orang menganggap hal ini hanya terjadi pada wanita. Pria dianggap selalu merasakan seks sehingga tidak banyak yang menyadari bahwa mereka bahkan dapat mengalami PCD. Sejumlah peneliti di Queensland University of Technology, Australia, menjalankan survei yang melibatkan lebih dari 1.200 pria dari sejumlah negara. Survei ini bertujuan untuk mengenal persentase pria yang mengalami PCD dengan mengukur gejalanya, seperti munculnya rasa sedih, tidak puas, terganggu, dan stres sesudah terkait intim.

Penyebab post-coital dysphoria belum dikenal secara pasti, mengingat belum banyak penelitian yang membahas perihal fenomena ini. Kendati demikian, para ahli mengira PCD terkait dengan perubahan hormon, situasi emosional, dan stigma perihal seks.

1. Perubahan hormon
Sebagian ahli mengira bahwa PCD mungkin terkait dengan meningkatnya hormon dopamin, oksitosin, dan endorfin saat menjalankan kesibukan seksual. Ketiganya merupakan hormon yang memberikan rasa rileks dan mengurangi stres sesudah terkait intim. Untuk mengimbangi dopamin, oksitosin, dan endorfin yang tinggi, tubuh memproduksi hormon prolaktin. Meningkatnya prolaktin membuat ketiga hormon tersebut menurun secara drastis. Hasilnya, Anda merasakan emosional negatif yang menjadi awal dari PCD.

2. Situasi emosional dan trauma
Sekiranya Anda pernah mengalami trauma terkait relasi seks, kesibukan ini mungkin dapat memunculkan emosional negatif di kemudian hari. Relasi seks yang mesti memunculkan perasaan bagus, justru akan mengingatkan Anda pada trauma. Kecuali trauma, pengalaman buruk atau memalukan terkait seks juga dapat menyebabkan stres sesudah terkait intim. Terapi dengan psikolog akan menolong Anda dalam menggali akar masalahnya sehingga kesibukan seksual tidak lagi tampak menakutkan.

3. Stigma negatif perihal seks
Seks merupakan komponen yang normal dalam relasi asmara. Tapi, tidak sedikit orang yang mengukur seks tabu karena lingkungannya mengajarkan demikian. Mereka hasilnya menganggap relasi intim sebagai sesuatu yang dekil dan memalukan. Stigma seperti ini sangat susah dihilangkan, bahkan saat seorang pria sudah dewasa dan berusaha tidak memercayainya. Dampaknya|}, relasi intim bahkan memunculkan emosional negatif dan perasaan bersalah.

Stres sesudah terkait intim tidak hanya terjadi pada wanita, tetapi juga pria. Situasi ini bahkan cukup awam terjadi pada pria, hanya saja tidak banyak terungkap karena pria lebih jarang mengutarakan perasaannya dibandingi wanita. Emosi yang Anda natural sebetulnya tidak perlu ditangani secara serius selama tidak menurunkan kwalitas relasi seksual secara keseluruhan. Tapi, apabila Anda mulai terganggu, cobalah berkonsultasi dengan psikolog untuk memastikan solusinya.

Diberdayakan oleh Blogger.