Minggu, 31 Juli 2016

Penyebab Meninggalnya Penyanyi Mike Mohede, Inilah Sebabnya ...


BERITA KOCIK - Penyanyi bersuara merdu, Mike Mohede, meninggal dunia dalam usia 32 tahun, Minggu (31/7). Rencananya, jenazah Mike akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir.Ucapan belasungkawa mengalir deras di media sosial dari berbagai kalangan. Banyak yang tak menyangka kepergian Mike begitu mendadak, padahal semalam dia masih manggung di acara ulang tahun pernikahan mantan presiden SBY dan Ani Yudhoyono.

Menurut manajernya, Indra Djamal, pelantun 'Semua Untuk Cinta' itu sebelumnya dalam kondisi sehat. Mike juga sempat main game dengan temannya di rumah, Minggu (31/7) siang, sebelum kemudian tidur. Saat tidur itu Mike mengalami serangan jantung. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi meninggal dalam perjalanan.

"Kondisi Mike tidak ada keluhan apa-apa, cuma menjaga makan saja untuk menjaga penampilan," katanya saat ditemui di RS. Premiere Bintaro, Tangerang, Minggu, (31/7/2016) malam.


Banyak selebriti dan musisi yang berdatangan ke rumah sakit, termasuk Mulan Jameela. Dia terakhir kali bertemu Mike tahun lalu di Bali. Waktu itu, Mulan sedang liburan bersama keluarganya.

"Saya respect sama dia. Dia itu pemilik suara surga yang bagus banget," puji istri Ahmad Dhani itu.

Sampai Sekarang Sebagian Mesjid Tidak Mematuhi Aturan Pengeras Suara, Apa sebabnya ...


BERITA KOCIK - "Peraturannya sudah ada, tapi seperti tidak ada, karena tidak diindahkan oleh pengelola (sebagian) masjid," kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama, Machasin, kepada BBC Indonesia.Menurutnya, tata cara pengeras suara di masjid telah diatur melalui keputusan Dirjen Bimas Islam pada 17 Juli 1978 dan pernah diperbaharui sekian tahun kemudian.

Masalah pengeras suara masjid yang dianggap tidak tepat waktu dan volumenya terlalu tinggi telah berulang kali dikritik oleh berbagai kalangan, tetapi dianggap tidak digubris oleh pengelola masjid.
Terakhir Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, telah meminta agar Majelis Ulama Indonesia, MUI agar ikut terlibat membahas masalah ini.
Pada 2012 lalu, Wakil Presiden Boediono juga meminta agar masjid mengatur volume pengeras suaranya.

Ditanya kenapa peraturan ini tidak diindahkan oleh sebagian pengurus masjid di Indonesia, Machasin mengatakan: "Saya kira sosialisasinya memang kurang."


Machasin mengaku saat ini pihaknya "harus bersikap hati-hati" dalam mensosialisasikan tata cara penggunaan pengeras suara kepada para pengelola masjid, agar "tidak menimbulkan reaksi yang terlalu besar". 

"Kita sedang mencari waktu (untuk melakukan sosialisasi), dan membicarakan lebih jauh untung ruginya, baru kita perbuat," ungkap Machasin, ketika ditanya apakah sosialisasi baru akan dilakukan setelah bulan Ramadhan berakhir.

Dia mengaku, saat Ramadhan ini masih ada sebagian pengelola masjid yang sudah membunyikan kaset pengajian sekitar pukul dua dini hari sebelum waktu sahur.
"Itu tidak pas, bikin orang terbangun. Belum waktunya sahur sudah dibangunkan," katanya memberi contoh.

Tidak ada sanksi

Menurutnya, praktik seperti ini jelas tidak sesuai aturan Kementerian Agama yang pertama kali dibuat pada 1978 lalu."Intinya, yang boleh lewat pengeras suara yang keluar itu hanya adzan dan pengajian sebelum atau sesudah adzan yang waktunya hanya sekitar 5 sampai 10 menit," kata Machasin.


Dia juga menekankan, masjid disarankan mengeraskan volume pengajian hanya untuk ke dalam dan bukan ke luar masjid."Untuk orang yang ingin mendengarnya, bukan sembarang orang yang merasa terganggu oleh suara itu," katanya.Ditanya sanksi seperti apa yang akan diberikan kepada pengelola masjid yang tidak mematuhi aturan, Michsan mengatakan "tidak ada, karena ini memang cuma anjuran."

Wapres Kalla terus memantau

Dewan Masjid Indonesia (DMI) dibawah pimpinan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah melakukan pemantauan secara acak di sejumlah kota besar untuk mengetahui secara persis "polusi suara" akibat penggunaan pengeras suara sejumlah masjid.

Juru bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla, Husain Abdullah mengatakan, pemantauan ini digelar di Medan, Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Pasuruan, Makasar, Yogyakarta, serta Ambon."Dari daerah masing-masing, tim itu memberi laporan tentang audio (dari sejumlah masjid) dari kawasan tertentu yang padat pemukiman dan terdapat sejumlah masjid," kata Husain kepada wartawan BBC Alice Budiharjo, Jumat (26/06) siang.


Ditanya kenapa baru sekarang DMI memberi perhatian kepada persoalan ini, Husain mengatakan, DMI sebelumnya sudah menggelar program melatih teknisi masjid dalam "mengatur" alat pengeras suaranya.

'Tingkatkan kualitas ibadah'

"Supaya kedengarannya nyaman, tidak saling tabrakan dan mengaum, karena kadang-kadang alat pengeras suara (loudspeaker) berhadap-hadapan, tidak sesuai aturan akustik, sehingga suara khatib tidak tersampaikan dengan baik," ungkapnya.

Menurutnya, apabila masalah ini sudah tertangani dengan baik, "otomatis akan mengurangi polusi suara."

Dimintai tanggapan atas pendapat sebagian kalangan yang berpandangan upaya penataan pengeras suara masjid itu akan membatasi hak beribadat, Husain Abdullah mengatakan "justru ini untuk meningkatkan kualitas ibadah."

"Yang diatur 'kan sekedar volume suara supaya lebih harmonis, terdengar lebih syahdu, dan agar orang lebih fokus untuk mendengarnya," katanya.

Peristiwa 27 Mei 1998 Amuk Massa Di Kota Tanjung Balai Akan Terjadi Lagi Kah?


BERITA KOCIK - Tanggal 27 Mei 1998 yang akan datang genap 16 tahun runtuhnya Mafia yang dibangun oleh Abie Besok Gembong penyeludup kota Tanjungbalai. Dan pada tanggal 27 Mei 1998 itu pula merupakan awal di mulainya gerakan revormasi di Indonesia, dan di saat itu pula awal awal runtuhnya Mafia yang di bangun oleh DR.Suwardi Salim alias Abie Besok di kota Tanjungbalai khususnya dan Sumatera Utara pada Umumnya. Siapa yang tidak kenal dengan Abie Besok, gembong penyeludup kelas kakap di Sumatera Utara yang tinggal di kota Tanjungbalai di tahun 90-an kebawah. 

Jaringan Abie Besok yang konon katanya dekat dengan Megawati Soekarno Putri ketika menjabat sebagai Presiden Indonesia. Sepak terjang Abie Besok dalam hal penyeludupan ileghal loging tidak saja menguasai daerah Sumatera Utara, tapi melainkan juga merambah ke Provinsi Nangru Aceh Darussalam dan Provinsi Riau, serta Jambi. Hutan hutan di provinsi ini habis di babat oleh Mapioso kulit hitam ini, dan kayunya di ekspor secara ileghal kenegara Malaysia melalui pelabuhan rakyat yang ada di kota Tanjungbalai. Akibat uang yang di hasilkan dari perambahan hutan di empat provinsi ini, membuat Abie Besok mampu membangun kekuasaannya dengan menunduk kan para petinggi ABRI maupun Sipil di negeri ini. jalinan lobinya dengan para petinggi ABRI dan Sipil tidak hanya di level Provinsi tapi telah menjangkau ke tingkat pusat di Jakarta.

 Dengan kekuasaan yang di milikinya Abie Besok membangun suatu kekuatan mafia di kota Tanjungbalai. Abie mampu menundukkan Ketua Pemuda Pancasila kota Tanjungbalai M. Kosasih untuk bergambung dengannya. Abie memiliki tukang tukang pukul yang di koordinir oleh tiga serangkai, Yakni Edi Balon, Anwar Tembak dan M.Rasyid Ridho. Kedua orang ini yakni Anwar Tembak atau Anwar Bed Sinaga dan M.Rasyid Ridho berhasil menjadi Ketua Pemuda Pancasila kota Tanjungbalai menggantikan M.Kosasih ketika terjadi perpecahan diantara gembong gembong penyeludup ini. M. Kosasih belakangan lebih dekat dengan kelompok Felik Wijaya atau Aweng. Felix Wijaya membangun kelompoknya dengan menghimpun orang orang orangnya yang Profisional yakni Zaharuddin SE Ketua Pemuda Muslimin (PMI) Sumatera Utara yang kini menjabat Direktur PDAM Tirta Kualo Tanjungbalai, Rorel Harahap  SE Mantan Ketua KNPI Sumatera Utara yang kini menjabat Wakil Walikota Tanjungbalai, Amran Rasyid (Alm) Ketua Pemuda Alwasliyah kota Tanjungbalai, Ucok Aseng, H. Romaynoor SE Sekarang menjabat Ketua DPRD kota Tanjungbalai dan beberapa tokoh pemuda lainnya. 

Gebrakan kelompok Aweng sungguh berbeda jauh dengan gerakan yang di lakukan oleh kelompok Abie Besok yang penuh dengan nuansa premanisme. Siapa saja yang menghalang halangi pekerjaan penyeludupan yang di lakukan oleh Bos Abi Besok mereka sikat. Tidak perduli dia ABRI maupun Sipil. Tak terhitung jumlah wartawan yang menjadi korban kekerasan yang di lakukan oleh kelompok Abie Besok. Berbeda dengan gerakan yang di lakukan oleh kelompok Aweng. Mereka ini tidak mengandalkan otot. Tapi mengandalkan otak. Makanya Felix Wijaya sebelum terjadinya reformasi telah mengalihkan usahanya di luar kota Tanjungbalai. 

Tindakan yang di lakukan oleh kelompok Abie Besok menyimpan dendam bagi masyarakat kota Tanjungbalai. Karena waktu Abie Besok berkuasa, tidak ada yang berani untuk mengganggu kekuasaannya. Abie Besok merupakan pelindung tangguh bagi kalangan Etnis Cina yang ada di kota Tanjungbalai. Masyarakat Cina di kota Tanjungbalai jangan tersenggol sedikit saja, langsung yang menyenggol berhadapan dengan aparat keamanan, atau setidaknya dengan kelompok Abie Besok. Tapi akhirnya ketika kerusuhan masya terjadi pada tanggal 27 Mei 1998, warga Cina ini menjadi korban amuk masya di kota Tanjungbalai. Peristiwa Amuk masya 27 Mei 1988 di kota Tanjungbalai adalah rentetan dari Pristiwa amuk masya di awal reformasi di kota kota besar di Indonesia. Jakarta bergejolak, pembakaran, penjarahan toko toko milik warga turunan Cina, dan pemerkosaan terhadap gadis gadis warga turunan Cina di kota kota besar merambat sampai ke kota Tanjungbalai di Sumatera Utara. 

Walaupun dalam peristiwa ini di kota Tanjungbalai tidak ada korban jiwa, akan tetapi ratusan rumah rumah milik warga turuanan Cina di bakar dan di hancurkan oleh Masya. Penjarahan terjadi di setiap toko toko milik warga turunan Cina. Awal terjadinya pristiwa itu di mulai dari tiga anak penyemir sepatu yang mendapat kekerasan dari pemilik toko di Jalan Sisingamangaraja. Dimana anak tersebut melakukan penyemiran sepatu di depan toko perabotan itu. Oleh si pemilik toko anak tersebut di usir dengan cara menendangnya. Akibat dari kejadian ini ke tiga anak tersebut mengadukan nya kepada Drs. H.Chairul Fuad atau lebih di kenal dengan nama H. Buyung, pemilik pesantren Modern AL-Falah di kota Tanjungbalai. H. Buyung cucu dari ulama besar sumatera Utara H. Tuan Tahir Abdullah, adalah tokoh pemuda yang peduli terhadap tindakan kekerasan, maksiat dan kejoliman di kota Tanjungbalai. Dan sekarang beliau menjadi anggota DPRD Provinsi sumatera Utara dari dari Partai Demokrad, dimana sebelumnya H.Buyung adalah anggota DPRD kota Tanjungbalai. Mendapat laporan dari ketiga orang tua anak tersebut, spontan H.Buyung membawa ketiga anak itu ke Gedung DPRD kota Tanjungbalai, untuk melaporkan bahwa telah terjadi tindak kekerasan terhadap anak. DPRD kota Tanjungbalaipun menggelar siding terbatas dengan maksud untuk menengahi persoalan itu agar jangan menjadi persoalan Suku Agama Ras (SARA). Pada siding terbatas yang di gelar oleh DPRD kota Tanjungbalai, kehadiran masya yang datang kegedung DPRD tidak dapat di bending. 

Gejolakpun mulai terjadi, sasaran di tujukan kepada M.Kosasih Ketua Pemuda Pancasila yang juga anggota DPRD kota Tanjungbalai dari partai Golkar. Kaca kaca jendela Gedung DPRD kota Tanjungbalai mulai di lempari oleh masya, situasi di dalam Gedungpun mulai tak menentu. Teriakan Bunuh Kosasih semakin membahana di ucapkan warga yang mulai kalap. Mereka menuduh kalau Kosasih antek antek nya Warga turunan Cina. Dalam situasi yang tidak menentu, M.Kosasih terpaksa di selamatkan oleh Kapten (Pelaut) Teguh Widodo yang kala itu menjabat sebagai Komandan Pos Angkatan Laut Tanjungbalai Asahan. Situasi pun tak terkendali. Masya yang berada di gedung DPRD kota Tanjungbalai terbagi dua. Ada yang tetap tinggal di gedung DPRD kota Tanjungbalai, dan sebahagian lagi mendatangi toko perabot yang pemiliknya telah melakukan kekerasan kepada tiga anak penyemir sepatu itu. Toko toko milik warga turunan Cina di kota Tanjungbalai mendapat pengawalan dari Pemuda pancasila lengkap dengan pakaian lorengnya. Abie Besok dengan di kawal Edi Balon, Anwar Tembak, dan M.Rasyid Ridho, serta para tukang tukang pukulnya melakukan patrol di jalanan kota Tanjungbalai dengan mobil jip williss terbuka. Masing masing memiliki senjata api di tangan. Tindakan patroli yang di lakukan oleh Abie Besok dan tukang tukang pukulnya bukan nya membuat massya menjadi takut, malah menimbulkan kemarahan bagi masya yang telah menyimpan dendam. Tanpa di komando masya melakukan pelemparan pelemparan terhadap rumah rumah milik warga turuanan Cina.

Pemuda Pancasila yang melakukan pengawalan rumah rumah dan toko toko warga turunan Cina, terpaksa menyelamatkan diri dengan membuka uniform nya, malah mereka jati turut bergabung dengan masya melempari dan membakar rumah dan toko toko milik warga turunan Cina. Situasi kota Tanjungbalai pun tidak terkendali, petugas keamanan dari Polres Tanjungbalai Asahan tak mampu mengamankan situasi. Mereka akhirnya menjadi penonton terhadap terjadinya amuk massya di kota Tanjungbalai. Kelompok mafia yang di bina oleh Abie Besokpun mulai bubar, masing masing menyelamatkan diri. Dan tidak terlihat lagi batang hidung mereka. Situasi mulai aman ketika satu pasukan  TNI dari Kesatuan Korem Pematang siantar melakukan pengamanan dengan memblokir seluruh jalan yang masuk kekota Tanjungbalai. Namun sebelumnya Pasukan ini sepertinya memberikan kesempatan kepada massya untuk melakukan penjarahan, asal tidak melakukan pembakaran. Tanggal 28 Mei 1998, keadaan kota Tanjungbalai baru tenang kembali. Walaupun akses untuk menuju kota Tanjungbalai masih di tutup. Pengawalan diambil alih oleh pihak Polres Tanjungbalai Asahan dengan menurunkan personil Brimobnya. 

Dan di tanggal 28 Mei 1998 ini pula ratusan masya yang masih tetap melakukan penjarahan di tangkapi oleh pihak keamanan dan di masuk kan kedalam penjara. Tanjungbalai kembali aman seperti sedia kala. Namun kegiatan penyeludupan yang di lakukan oleh kelompok Abie Besok tetap berjalan, walaupun tidak sepulgar sebelumnya. Dan tindakan kelompok mafia yang di bentuk oleh Abie Besok ini dalam melakukan hal kekerasan mulai berkurang, karena warga kota Tanjungbalai semakin berani untuk melakukan perlawanan. Tahun 2000, barulah kelompok mafia pimpinan Abie Besok ini bubar total seiring dengan adanya peraturan pemerintah yang melarang masuknya barang barang bekas dari luar negeri ke Indonesia, dan di tutupnya perjudian di seluruh bumi Nusantara. Kini Abie Besok hanya tinggal kenangan, Abie Besokpun jarang terlihat di muka umum. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kediamannya yang bernama gedung putih, karena warga turunan Cina yang menjadi korban amuk masya 27 Mai 1998 tidak lagi mempercayai Abie, karena sebelum  terjadi Amuk Masya Abie melakukan pengutipan uang kepada mereka untuk biaya pengamanan dengan menggunakan Pemuda Pancasila. Tapi hasilnya mereka menjadi korban. Rasa dendam dan duka yang di rasakan oleh warga turunan Cina di kota Tanjungbalai masih terlihat dari sikap mereka. Banyak dari mereka yang tidak mau memperbaiki kerusakan yang ada di rumah dan tokonya akibat terjadinya amuk masya. Setiap mereka melihat kerusakan itu maka mereka akan teringat dengan peristiwa yang memilukan itu.

Diberdayakan oleh Blogger.