Selasa, 16 Agustus 2016

Tindakan TNI Menggebuk Rakyat Merdeka ,Inilah Sebabnya ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Hari ini Indonesia genap 71 tahun dan suara pekik merdeka akan terdengar lebih parau dari sebelumnya. Pekik yang barangkali juga akan dijawab dengan kata yang ditulis Ikranegara dalam puisinya yang nakal dan janggal, tetapi makin ke sini, kok, ya, makin terasa sebagai kebenaran.

Merdeka!
Belum

Pertanyaannya, apakah kita memang belum merdeka? Secara fisik tentunya sudah. Tidak ada Spanyol tidak ada Portugal. Tidak ada lagi komandan kompeni yang wara-wiri di atas kuda dan memasang tampang angkuh dan mulutnya tiada henti mencecarkan makian 'godverdomme' dan 'inlander'.
Tidak ada lagi saudara tua: maniak-maniak yang membikin negeri terkasih ini hancur sehancur- hancurnya dalam tempo tiga setengah tahun saja. Tidak ada NICA. Tidak ada Jan Pieterszoon Coen, tidak ada Raymond Pierre Paul Westerling.

Namun tentu pula merdeka bukan sekadar fisik. Bukan cuma badaniah. Merdeka juga mencakup pikiran dan hati. Merdeka dalam jiwa. Dan sungguh sangat disayangkan, sampai 71 tahun sejak teks proklamasi dibacakan Soekarno, merdeka masih sebatas fisik. Pikiran belum, hati belum, jiwa apalagi, dan inilah sebab kenapa ketidakpuasan terus menyeruak.
Merdeka, juga kemerdekaan, tak lebih dari seonggok kata yang diabadikan tanpa makna di lembaran teks proklamasi. Merdeka, juga kemerdekaan, seolah-olah ditinggalkan di tembok- tembok kota yang sudah lama diruntuhkan. Kesalahkaprahan yang melahirkan semangat untuk berpisah dari republik: DI, RMS, GAM, OPM.

Apakah saya terlalu skeptis? Mereka yang sampai hari ini hidupnya anteng-anteng belaka, yang masalah terbesar yang dihadapinya adalah keterlanjuran meneguk kopi yang oleh baristanya ternyata dicampur gula dan itupun bukan gula rendah kalori, barangkali akan beranggapan demikian. Mereka akan menganggap gugatan terhadap merdeka sebagai keceriwisan yang mengada-ada.

Orang-orang semacam ini tentunya tidak boleh disalahkan. Tuhan menurunkan keberuntungan dan sungguh beruntung mereka yang mendapatkannya. Tapi faktanya, memang, sedikit yang seperti mereka. Tidak sampai 20 persen. Sisanya adalah para jelata yang disebut Wiji Thukul sebagai 'serdadu-serdadu kebijaksanaan'. Serdadu yang lahir karena adaptasi yang terpaksa atas keadaan yang mau tak mau, suka tidak suka, mesti diterima. Bahwa masalah nomor satu adalah hari ini, jangan mati sebelum dimampus takdir.

Meski jelata, meski serba berkekurangan, orang-orang dalam kelompok ini pada dasarnya tetap berhak menikmati kemerdekaan. Bentuknya mungkin bukan secangkir kopi kualitas premium di kafe-kafe branded. Bukan pakaian dalam Victoria Secret. Bukan jam tangan Richard Mille. Bukan BMW, Audi, Mercedes, Jaguar, Ferrari. Bukan apartemen di kawasan segi tiga emas Jakarta. Bukan yacht. Bukan sepetak tanah dengan nisan marmar kelas satu di San Diego Hills atau Al Azhar Memorial Garden.

Melainkan hak untuk berserikat dan berkumpul. Hak untuk berpendapat. Hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan, dan untuk mendapatkan nafkah. Pendeknya, hak untuk dilindungi oleh penyelenggara negara dan pemangku-pemangku kebijakan.

Sayangnya, kita pun tahu benar, hak-hak ini kerap dikebiri. Alih-alih melindungi, penyelenggara negara dan pemangku kebijakan justru seringkali berada di barisan terdepan untuk mengelabui dan mencelakai mereka.

Rendra pernah teriak-teriak, orang kecil, rakyat kecil, tidak bisa ngalah melulu. Tapi apa mau dikata, memang inilah kenyataannya. Orang kecil, rakyat kecil, memang ditempatkan pada posisi yang tidak sekadar mengharuskan mereka untuk kalah, tetapi lebih jauh memaksa mereka menerima dan memaklumi kekalahan itu.

Di Medan, jelang perayaan hari merdeka, tentara membabibuta menggebuk rakyat yang sedang mencoba menggunakan haknya. Hak atas tanah yang menurut mereka hendak direnggut oleh tentara.
Terlepas keliru atau benarnya, atau paham tidak pahamnya rakyat terhadap undang-undang dan hukum negara yang kadang-kadang kelewat rumit, tentara tetap tak boleh main kayu. Sebab tentara semestinya hadir untuk memberikan rasa nyaman dan tentram, bukan merasukkan ketakutan.

Besok Indonesia genap 71 tahun merdeka. Sudah berlalu 71 tahun dan seharusnya, bait terakhir dari puisi berjudul Kemerdekaan yang ditulis Wiji Thukul di tahun 1988: "kemerdekaan selalu di garis depan", tidak perlu dibacakan lagi. Pula demikian puisinya yang lain, berjudul serupa yang ditulis enam tahun sebelumnya: "Kemerdekaan adalah nasi. Dimakan jadi tai."

Sayangnya tidak demikian, dan besok, seperti pada perayaan-perayaan sebelumnya, suara pekik merdeka akan tetap terdengar parau. Bahkan lebih parau.

Sabtu, 13 Agustus 2016

KWARNAS PRAMUKA SIAPKAN 100 PAWANG CEGAH SERANGAN KERA DI JAMBORE NASIONAL, SEBAB ...



BERITA KOCIK | Jakarta - Panitia Jambore Nasional (Jamnas) X di Bumi Perkemahan, Cibubur mengerahkan 100 pawang kera mengantisipasi serangan kera liar terhadap peserta Jambore. Para pawang kera disebar di sejumlah lokasi yang rawan terhadap serangan kera liar.

"Meski Bumi Perkemahan Cibubur telah disterilisasi dan dipastikan keamanannya, namun langkah preventif tetap dilakukan panitia. Karena itu, Panitia Jamnas menyiapkan 100 pawang kera untuk mengamankan 25 ribu peserta," kata Ketua Pelaksana Jamnas, Editha Rahaded dalam keterangannya.

Pengerahan pawang kera ini mencegah terulangnya peristiwa penyerangan kera terhadap tiga peserta Jambore Nasional saat sedang mendirikan tenda.

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault, memberikan jaminan keamanan bagi seluruh peserta dan penghuni Buperta Cibubur.

"Kami bertanggung jawab penuh terhadap keamanan seluruh peserta. Saya sudah bahas khusus hal ini. Tidak boleh ada masalah yang ditangani setengah-setengah di Jamnas ini. Kita wajib memberikan yang terbaik untuk peserta Jamnas," tegasnya.

Menindaklanjuti arahan Ketua Kwarnas, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pemprov DKI memburu kera penyerang peserta dengan menembakkan peluru bius, sekitar pukul 17.00 WIB, Jumat, demi memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes (Pol) Awi Setiyono sebelumnya mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan di Posko Kesehatan, ketiga peserta itu ialah Dewa Ate (24) asal Nusa Tenggara Timur, Natalia (13) asal Sulawesi Tenggara, dan Hiska (13) asal Kalimantan Barat.

"Pada saat para peserta sedang membangun tenda sekira pukul 10.00 WIB kemarin, tiba-tiba didatangi kera dari arah hutan Buperta (Bumi Perkemahan dan Grawa Wisata Pramuka, red) lalu mencakar paha kanan korban," ujar Awi terpisah.

Ketiga korban itu langsung dibawa ke RS Olahraga Nasional dan mendapat perawatan. Kini, ketiganya sudah bisa kembali ke Bumi Perkemahan untuk mengikuti acara pesta Pramuka se-Indonesia itu.

"Korban hanya dirawat beberapa jam di RSON. Setelah dinyatakan aman, korban dapat kembali ke acara itu," tegas Awi.

Jumat, 12 Agustus 2016

WIRANTO : WNI Yang Disandera Di Filipina Keadaannya Baik, Tapi Mulai Melemah Sebab ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Jakarta - Sebanyak 7 orang WNI masih disandera oleh teroris kelompok Abu Sayyaf di Filipina sejak Juni 2016 lalu. Menko Polhukam Wiranto mengatakan saat ini kondisi WNI tersebut mulai melemah.

Sempat beredar informasi bahwa WNI yang disandera tersebut dalam keadaan sakit. Namun Wiranto meminta informasi itu sengaja disebarkan oleh penyandera untuk upaya propaganda.

"Itukan informasi dari penculik. Mereka melemparkan terus informasi itu, itu namanya perang urat syaraf, perang psikologi. Kalau publik kita selalu percaya informasi dari penculik ya artinya kita tidak menyelesaikan masalah justru menimbulkan masalah," kata Wiranto saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Tapi, lanjut Wiranto, hasil pengamatan operasi intelijen, keadaan WNI yang disandera dalam keadaan baik. Namun tak dipungkiri para WNI ini semakin melemah fisiknya.

"Hasil pengamatan hasil operasi intelijen pemantauan yang pasti tidak kita ekspose, keadaan mereka sementara memang lemah. Namanya disandera, tapi dalam keadaan baik," kata Wiranto

Kamis, 11 Agustus 2016

4 Siswi SMP di Bogor Kena Hipnotis , Akibat ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Bogor, Kasus penipuan dengan cara hipnotis atau gendam kembali terjadi. Kali ini 4 siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Bogor, Jawa Barat menjadi korban pelaku hipnotis. Telepon genggam milik mereka pun raib.

Kejadian bermula saat keempat siswi SMP Yayasan Pendidikan (YP) 17 Kota Bogor baru pulang sekolah. Korban bernama Novi Safira (15), Sintia (15), Fitri Iman Nanda (15) dan Tina Setiawati (15) sedang menunggu angkutan kota (angkot) tepat di depan sekolahnya.

Saat menunggu, mereka dipanggil oleh wanita tak dikenal dan menawari tiket konser.

"Tiba-tiba saya dipanggil sama mbak-mbak, rambutnya panjang, putih, giginya pake behel. Dia naik motor. Kirain mau tanya alamat. Pas saya samperin dia nawarin tiket konser CJR di Balaikota Bogor," kata salah seorang korban, Novi saat ditemui, Senin (19/1/2015)

Novi menuturkan, saat ditawari tiket konser, ia dan ketiga temannya dihipnotis oleh wanita tak dikenal tersebut dengan cara disentuh. Korban satu per satu disentuh bagian pundaknya sambil dipuji, ada juga yang ditatap matanya hingga para korban terhipnotis.

Usai terhipnotis, pelaku langsung meminta untuk dikumpulkan telepon genggam milik para korban dengan alasan untuk didata. Lalu, Novi dan Tina diajak pelaku untuk pergi ke sebuah tempat, tepatnya di Gang Ledeng, Kelurahan Gunungbatu, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

"Saya nggak sadar, pas saya ngasih HP (handphone) saya nurut aja. Terus saya disuruh nunggu, katanya dia (pelaku) mau ke kantornya dulu. Kira-kira udah 20 menit dia (pelaku) nggak dateng-dateng dan saya langsung sadar," tutur Novi.

Mengetahui telah dihipnotis, keempat korban menangis dan meminta pertolongan pada warga setempat. Mereka sempat mencoba menghubungi telepon genggam milik mereka yang diambil pelaku, namun sudah tidak aktif.

Mereka juga sempat tak ingin pulang ke rumah karena takut dimarahi orangtuanya. Kini petugas Polsek Bogor Barat telah menangani kasus penipuan dengan cara hipnotis tersebut dan meminta keterangan dari para korban. 

Resmi AHOK Bubarkan FPI !!! Inilah Alasan AHOK Nekat Membubarkan FPI !


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Jakarta, Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak main-main dengan ucapanya. Pria yang biasa disapa Ahok itu benar-benar berhasrat untuk membubarkan FPI (Front Pembela Islam). Bahkan, hari ini Ahok sudah mempersiapkan surat yang bakal dia layangkan ke Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Kementrian Dalam Negeri. Surat itu berisikan rekomendasi pembubaran ormas FPI.

"Biar FPI tahu, ini pertama kali Gubernur di Indonesia, Plt Gubernur DKI Jakarta pingin bubarin dia!" ujar Ahok dengan nada geram di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ahok mengaku muak dengan tingkah FPI yang mengajak masyarakat, terutama umat Islam, untuk membenci dirinya.

"FPI dibubarkan saja, melanggar konstitusi, menyebarkan kebencian. Ini negara hukum, Indonesia, ada konstitusinya. Jadi jangan kamu nginjak-nginjak hukum seenaknya FPI!" ucap Ahok dengan nada tinggi.

Ahok menjelaskan, ia hanya bisa mengirimkan surat permohonan rekomendasi pembubaran ke Kementrian Hukum dan HAM dan Kementrian Dalam Negeri. 

"Karena UU ormas mengatakan mereka hanya dapat di bubarkan oleh Menkumham dana Mendagri. Jadi kita hanya sebatas ini. Kita lihat saja Menkumham dan Mendagri membubarkan (FPI) apa enggak,"jelas Ahok.

Persetujuan antara FPI dan Ahok berlangsung cukup lama. Perseteruan memuncak setelah Ahok dipastikan akan menggantikan kursi Gubernur DKI Jakarta setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden RI , FPI menilai , Ahok tidak pantas memimpin Jakarta yang mayoritas penganut Islam.

Diberdayakan oleh Blogger.