Sabtu, 06 Agustus 2016

Terkait Ancaman Hari Kemerdekaan, Kapolri Minta Jajarannya Waspada ! Sebab ...


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta jajarannya untuk waspada menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus mendatang. Dia menyebut ada modus-modus baru yang dilakukan oleh para pelaku teror.

"Kita waspadai saja. Saya sudah ingatkan kepada seluruh wilayah 17 Agustus itu," kata Tito di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Sabtu (6/8/2016).

Tito menyebut adanya modus baru yang dilancarkan pelaku teror seperti yang terjadi di Nice, Prancis pada 14 Juli lalu. Saat itu sebuah truk menabrak ratusan orang yang tengah merayakan Bastille Day yang diperingati sebagai hari kemerdekaan Prancis setiap tahunnya.

"Karena ada modus baru yaitu yang di Nice, Prancis itu, pada waktu hari Bastille, hari kebesaran, hari nasionalnya Prancis. Saat orang berkumpul kemudian ditabrak itu. Nah ini saya sudah ingatkan juga kepada seluruh wilayah untuk mewaspadai modus-modus seperti ini," kata Tito.

Meskipun demikian, Tito mengaku belum ada informasi tentang adanya ancaman yang serius. Namun Tito tetap meminta jajarannya siap siaga.

"Kita tetap antisipasi," sebutnya.

Inilah Sebabnya Perbatasan Sulawesi Selatan Diperketat !


BERITA KOCIK | Berita terkini - Sepak terjang pentolan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso berakhir setelah tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala pertengahan Juli 2016. Namun pengejaran terhadap sisa kelompoknya masih berlanjut.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Anton Charliyan menginstruksikan anak buahnya memperketat daerah perbatasan sebagai antisipasi sisa kelompok Santoso menyusup masuk wilayah Sulawesi Selatan."Pengawasan daerah-daerah perbatasan seperti Kabupaten Luwu Timur tetap diperkuat jangan sampai ada kelompok Santoso menyusup. 

Kita kedepankan operasi intelijen," kata Anton Charliyan di Mapolda Sulsel, Sabtu (6/8).Anton khawatir sisa kelompok Santoso masuk wilayahnya. Pihaknya sudah meminta bantuan TNI, Pemda dan Ulama."Kita harus tingkatkan kesiagaan. Diantaranya juga terhadap markas-markas kepolisian karena belajar dari beberapa peristiwa termasuk di Solo baru-baru ini," tegasnya.

Jumat, 05 Agustus 2016

Angkatan Bersenjata Mesir mengatakan, telah menewaskan pimpinan ISIS di Sinai !



BERITA KOCIK  | Berita Terkini - Angkatan Bersenjata Mesir mengatakan, telah menewaskan pimpinan ISIS di Sinai, bersama dengan sejumlah anggotanya.Pernyataan itu juga menyebutkan, Abu Duaa al-Ansari tewas dalam serangkaian serangan udara terhadap kelompok ISIS di Sinai atau Ansar Beit al-Maqdis.Serangan udara itu menargetkan wilayah yang dikuasai kelompok militan tersebut di dekat kota El-Arish.

Kelompok pemberontak di provinsi Sinai merupakan yang paling aktif beraksi di Mesir dan terkait dengan sejumlah serangan mematikan di Sinai dan Kairo.

"Serangan menyebabkan 45 teroris tewas, puluhan terluka dan sejumlah senjata dimusnahkan," demikian pernyataan angkatan bersenjata Mesir.

Brigadir Jenderal Mohammed Samir mengatakan lewat akun Facebook-nya bahwa Al-Ansari tewas dalam sebuah operasi yang dituntun informasi intelejen yang akurat.

Namun, pernyataan Samir itu tidak menjelaskan waktu berlangsungnya operasi di Sinai tersebut.

Kelompok militan Ansar Beit al-Maqdis, yang telah aktif di Semenanjung Sinai sejak 2011, belum mengeluarkan komentar terkait kabar kematian pemimpinnya itu.

Militansi Islam meningkat di Mesir sejak militer memakzulkan Presiden Mohammed Morsi yang disokong Ikhwanul Muslimin pada 2013.

Survei terbaru yang dilakukan situs berita Al-Araby Al-Jadid yang berbasis di London menyebutkan, kelompok militan telah melakukan lebih dari 31 serangan di seluruh wilayah Sinai hanya dalam dua pekan pada Maret 2016.

Kelompok ini juga produktif dalam membuat video propaganda yang kemudian disebar lewat internet.

Rabu lalu, sebuah video yang disebut berasal dari kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Sinai mengeluarkan ancaman langsung ke Israel.

Dalam ancaman untuk Israel yang amat jarang dilakukan itu, kelompok tersebut mengancam Israel "membayar dengan harga mahal" dalam waktu dekat..

Kamis, 04 Agustus 2016

Panglima TNI Sebut Operasi Darat Bebaskan Sandera harus dibuat SOP


BERITA KOCIK | Berita Terkini - Jakarta, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebutkan operasi darat pembebasan warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina harus ada standar operasional prosedur (SOP). Tanpa SOP, pihak TNI tak akan bisa masuk ke Filipina untuk membebaskan sandera.

"Apa yang disampaikan di Bali adalah hal positif, tetapi untuk operasional harus ditindaklanjuti pembuatan SOP antara Panglima TNI dengan Panglima angkatan bersenjata Filipina dan Malaysia," kata Jenderal Gatot Nurmantyo di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (4/8).

Menurutnya, perjanjian trilateral tiga Kementerian Pertananan Indonesia, Filipina dan Malaysia di Bali harus diratifikasi dalam legislatif tiga negara tersebut. Jika tak diratifikasi perjanjian trilateral, TNI belum bisa masuk ke Filipina dan Malaysia.

"Kalau sudah ada SOP maka apa yang kita lakukan berdasarkan SOP itu akan dilakukan, karena memang undang-undang di Filipina tidak membolehkan ke sana," jelas Gatot.

Dia melanjutkan, kondisi sandera saat ini dalam kondisi selamat dan sehat. Namun para sandera terpisah di berbagai tempat di Kepulaun Sulu, Filipina.

Gatot menjelaskan, saat ini kelompok Abu Sayyaf sudah terkepung dengan angkatan bersenjata Filipina dan kelompok pejuang muslim Moro Islamic Liberation Front (MILF). Pasalnya, pemerintah enggan memberikan uang tebusan sandera kepada kelompok Abu Sayyaf.

"Saya ucapkan terima kasih kepada pemerintah Filipina karena pemerintah Filipina bersama MILF mendesak dan mengepung tempat penyanderaan untuk bisa dibebaskan. Pemerintah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan sandera tanpa pembayaran. Karena dengan pembayaran harga diri kuta dijual. Mohon orang-orang yang suka berpetualang menjual bangsa ini itu, jangan ada lagi gitu loh," tuturnya.

Sebelumnya, pemerintah mengusulkan operasi darat untuk membebaskan sandera, selain operasi di perairan laut. Sebab, perjanjian Trilateral antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia sudah dibentuk untuk mempermudah kerjasama menjaga keamanan maritim.

"Saya memberikan masukan, bicara soal kerjasama operasi darat. Mereka kan merampok di laut dibawa ke darat. Kalau diselesaikan di laut, kalau di darat, tak ada kerjasama bagaimana. Kan beritanya Indonesia mau menyerang ke Filipina, itu sangat akan ditentukan oleh perjanjian itu," kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam.

Rabu, 03 Agustus 2016

Kapolri Tegas Mencopot Kapolda Sumatera Utara Dan Kapolres TanjungBalai



BERITA KOCIK | BERITA TERKINI - JAKARTA – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane meminta Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mencopot Kapolresta Medan maupun Kapolda Sumut. Pasalnya, dua perwira polisi tersebut tidak punya wibawa, sehingga dua ormas, Pemuda Pancasila dan IKP bentrok hingga menelan korban jiwa.

Menurut Neta, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pernah menjadi Kapolda Sumut, sehingga dia tahu persis dimana kelemahan Kapolresta Medan dan Kapolda Sumut hingga bentrokan antara PP dan IPK terjadi.

Bentrokan antara PP dan IPK menyebabkan satu orang tewas, beberapa orang luka, dua sepeda motor dibakar dan tiga mobil dirusak.

Neta melihat bentrokan ini terjadi akibat aparat kepolisian membiarkan salah satu kelompok OKP melakukan konvoi tanpa ada pengawalan aparat keamanan. Padahal semua orang di Sumut tahu persis bahwa antara Pemuda Pancasila dan IPK adalah musuh bebuyutan, yang selalu bertikai sejak lama.

“Tapi kenapa Kapolresta Medan dan Kapolda Sumut membiarkan salah satu OKP itu konvoi tanpa pengawalan aparat. Apakah pihak kepolisian tidak tahu jika OKP itu akan bergerak. Lalu dimana intelijen kepolisian dan apa kerja mereka jika tidak mampu mendeteksi manuver yang akan dilakukan OKP tersebut,” tanya Neta.

Padahal, menurut Neta, konvoi itu melibatkan 160 orang, 10 mobil, dan 60 sepeda motor, yang mulai bergerak pukul 15.15 WIB dari kawasan Jalan Krakatau menuju Jalan Pelajar.

Konvoi ini juga melintas di Jalan Thamrin di dekat markas PP. Disinilah terjadi bentrokan hingga gelombang massa terpecah ke Jalan Asia, Jalan Sutrisno, Jalan Pandu, Jalan Semarang dan Jalan Surabaya.

Sejumlah mobil dihancurkan dan sepeda motor dibakar. Ironisnya tidak ada polisi yang mengendalikan situasi. Padahal kekacauan ini terjadi di pusat bisnis kota Medan. Kantor MPW PP Sumut diserang dan dilempar bom molotov hingga terbakar. Setelah situasi kacau baru terlihat Waka Polda Sumut Brigjen Adhi P turun ke lokasi.

Neta mengungkap bahwa kedua OKP itu memang sering bentrokan, tapi tidak sebesar itu. Meski demikian tetap saja sangat meresahkan masyarkat. Kasus ini menjadi gambaran betapa tidak amannya kota Medan, apalagi jika setiap kali bentrokan terjadi kerusakan. Akibatnya investor dan wisatawan pun takut datang ke kota ini.

“Sangan disayangkan kenapa bentrokan demi bentrokan dibiarkan terjadi. Sepertinya Kapolresta Medan maupun Kapolda Sumut tidak mampu mengendalikan kedua OKP ini,” ujar Neta.

Menurutnya, bentrokan antar OKP yang terus terjadi menunjukkan Kapolresta dan Kapolda tidak punya wibawa. Seharusnya mereka mampu bertindak tegas menyapu bersih oknum-oknum OKP yang menjadi biang bentrokan.

Diberdayakan oleh Blogger.